UNDANG-UNDANG TENTANG DESA: PP 60 TAHUN 2014: PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60 TAHUN 2014 TENTANG DANA DESA YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA ...
DAR
Rabu, 24 September 2014
UNDANG-UNDANG TENTANG DESA: PP 60 TAHUN 2014
UNDANG-UNDANG TENTANG DESA: PP 60 TAHUN 2014: PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60 TAHUN 2014 TENTANG DANA DESA YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA ...
DAR
DAR
Rabu, 12 Februari 2014
PASIR WETAN DALAM SUASANA HARI RAYA IDUL ADHA
Sebelumnya saya mengucapkan Selamat Hari Raya 1434 H kepada semua
umat Islam yang merayakannya, saya akan berbagi artikel tentang perayaan
Idul Adha di Pasir Wetan Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas.
Warga desa Pasir Wetan terutama warga di sekitar lingkungan tempat diadakannya kegiatan menyambut hari Raya Idul Adha,. menyambut dengan rasa syukur dan gembira bisa berjumpa
kembali dengan hari Raya Idul Adha 1434 H yang jatuh pada hari Selasa,
tanggal 15 Oktober 2013. Kegembiraan ini disambut warga dimulai malam
hari menjelang pelaksanaan Sholat Ied dengan dilaksanakannya takbiran di
Masjid maupun keliling baik oleh Bapak-bapak maupun anak-anak untuk mengumandangkan
kebesaran Allah SWT.
Pagi harinya segenap warga mulai berdatangan ke Masjid untuk
melaksanakan sholat Idul Adha yang pelaksanaannya dimulai pukul 06.00
WIB dengan dilanjutkan Qutbah, sebelum
jamaah bubar diadakan pengumuman oleh Panitia tentang acara
penyembelihan hewan qurban
Sekedar informasi kegiatan penyembelihan hewan qurban dipusatkan dibeberapa tempat yaitu:
1. Madrasah Al-Ittihad Pasir Wetan ,dengan jumlah hewan qurban; 11 ekor sapi dan 3 ekor kambig
2. Masjid Nurul Iman RT 03 RW 02 dengan jumlah hewan qurban; 8 ekor sapi dan 4 ekor kambig
3. Gerumbul Sukadamai dengan jumlah hewan qurban; 4 ekor sapi dan 3 ekor kambing
4. Gerumbul Pekuncen dengan jumlah hewan qurban; 2 ekor sapi
5. Gerumbul Sokawera dengan jumlah hewan qurban 5 ekor sapi dan 4 ekor kambing
Galeri Kegiatan Pemotongan Hewan Qurban Di Madrasah Desa Pasir wetan
Pacu Pertumbuhan Benih Gurami Dengan Hormon Tiroksin
Ingin ikan gurami anda cepat besar dan panen? Simak ulasan
mengenai hormon tiroksin yang dapat memacu pertumbuhan ikan gurami
berikut ini.
Tidak terkecuali pada ikan gurami, pakan dan
cara pemberiannya merupakan salah satu faktor penting dalam budidaya
ikan, terutama komposisi pakan dan kandungan nutrisinya. Protein, lemak,
karbohidrat diperlukan oleh tubuh ikan sebagai materi dan energi untuk
pertumbuhan dan diperoleh dari pakan yang dikonsumsi. Selanjutnya, agar dapat dimanfaatkan oleh tubuh untuk pertumbuhan, pakan yang dikonsumsi akan mengalami proses metabolisme.
Proses
metabolisme dan pertumbuhan pada ikan dipengaruhi juga oleh faktor
hormonal, diantaranya adalah hormon tiroksin yang dapat ditambahkan
dalam formulasi pakan buatan yang bisa kita buat sendiri sesuai dengan
kebutuhan dan ukuran ikan gurami. Hormon tiroksin ini mampu membantu
untuk mengatur proses metabolisme pada ikan, memacu laju pertumbuhan
(Matty, 1982). Selain itu, hormon tiroksin yang dicampurkan atau
ditambahkan dalam pakan buatan juga mampu meningkatkan nafsu makan,
menambah berat tubuh dan meningkatkan kecepatan absorbsi makanan
(Guyton, 1983). Peran hormon tiroksin terhadap laju pertumbuhan ikan
sangat dipengaruhi oleh dosis hormon, dimana hormon tiroksin ini
mempunyai sifat biphasic, yaitu pada dosis rendah bersifat anabolik
(digunakan untuk sintesis senyawa baru), sedangkan pada dosis tinggi
bersifat katabolik (dioksidasi menghasilkan energi). Disamping itu,
peran hormon tiroksin juga dipengaruhi oleh ukuran dan umur ikan,
keadaan nutrisi pakan serta keadaan fisiologi ikan (Lam, 1985).
HORMON TIROKSIN
Menurut
Djojosoebagio (1996), tiroksin adalah hormon yang dihasilkan oleh
kelenjar tiroid, yang disintesis dan disimpan didalam folikel serta
mengandung unsur yodium. Tiroksin termasuk hormon amina yang berasal
dari asam amino tiroksin yang mengalami modifikasi sebagai hasil
yodonisasi (pengikat yodium pada asam amino tiroksin) dan penyatuan dari
dua molekul asam amino tiroksin. Tiroksin memiliki struktur kimia
L-3,5,3’-triiodotironin atau T3 dan L-3,5,3’,5’-tetraiodotironin atau
T4. Matty (1985) mengatakan bahwa tiroksin memainkan peran dalam
pertumbuhan dan metabolisme ikan. Selanjutnya Hoar (1975) mengatakan
bahwa tiroksin terlibat dalam metabolisme protein secara langsung dan
tidak langsung walaupun pada saat tersebut belum ada informasi yang
cukup untuk menerangkan mekanismenya. Hormon tiroksin dapat dibutuhkan
oleh semua jaringan tubuh, khususnya bagi sel yang sedang tumbuh. Pada
proses metabolisme, tiroksin mempercepat reaksi glikolisis di hati.
Tiroksin juga meningkatkan penyerapan heksosa dari usus (Matty, 1982).
Turner
dan Bagnara (1976) mengkategorikan fungsi hormon tiroksin menjadi dua
kelompok, yaitu fungsi yang mempengaruhi metabolisme dan fungsi yang
meningkatkan pertumbuhan. Pengaruh terhadap metabolisme meliputi
kalorigenesis serta pengaturan sistem transpor air dan ion. Sementara
itu, pengaruh terhadap pertumbuhan terjadi melalui peningkatan laju
pertumbuhan jaringan homoiotermal dan pengaturan metamorfosis. Hormon
tiroksin merangsang laju oksidasi bahan makanan dalam sel dan dengan
demikian meningkatakan laju konsumsi oksigen, meningkatkan pertumbuhan,
dan mempercepat proses metamorfosis (Djojosoebagio, 1996).
PACU PERTUMBUHAN BENIH IKAN GURAMI
Matty
(1985) menyatakan bahwa hormon tiroksin meningkatkan pengembalian dan /
atau penyerapan asam amino oleh usus sehingga terjadi peningkatan
konsentrasi asam amino bebas dalam plasma. Tiroksin berpengaruh terhadap
pertumbuhan hewan muda dan proses metamorfosisnya. Pengaruh utama
tiroksin adalah merangsang pertumbuhan sistem saraf dan tulang. Hormon
ini juga meningkatkan pertumbuhan ikan steelhead trout dan teleostei
lainnya dengan meningkatkan aktivitas pengambilan makanan (nafsu makan),
effisiensi makanan dan pembentukan rangka. Hormon tiroksin dapat
menyebabkan pertumbuhan normal pada tulang dan sebaliknya dapat pula
menyebabkan pertumbuhan abnormal (Higgs, 1983).
Penelitian Matty (1985) menunjukkan bahwa penggunaan tiroksin secara oral terhadap ikan trout pelangi (Salmo gairdneri) meningkatkan panjang dan bobot tubuh yang lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan panjang dan bobot ikan kontrol. Sedangkan pada penelitian Handayani (2001), pemberian hormon tiroid (triiodotironin) dengan dosis 10 mg/kg pakan pada ikan gurami dengan berat ikan uji 0.39 g/ekor sampai 21.99 g/ekor mampu meningkatkan aktivitas enzim protese dan lipase, hal ini menyebabkan retensi lemak dan retensi protein meningkat pula.
Penelitian Matty (1985) menunjukkan bahwa penggunaan tiroksin secara oral terhadap ikan trout pelangi (Salmo gairdneri) meningkatkan panjang dan bobot tubuh yang lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan panjang dan bobot ikan kontrol. Sedangkan pada penelitian Handayani (2001), pemberian hormon tiroid (triiodotironin) dengan dosis 10 mg/kg pakan pada ikan gurami dengan berat ikan uji 0.39 g/ekor sampai 21.99 g/ekor mampu meningkatkan aktivitas enzim protese dan lipase, hal ini menyebabkan retensi lemak dan retensi protein meningkat pula.
Hasil penelitian yang
dilakukan Subiyanti (2005) juga menunjukkan bahwa pemberian hormon
tiroksin T4 (L-3,5,3’,5’-tetrtaiodotironin) yang dicampurkan dalam pakan
buatan untuk benih ikan gurami umur 60 hari dengan protein pakan 32%
dan dosis hormon tiroksin 10 mg/kg pakan mampu meningkatkan aktivitas
pengambilan makanan (nafsu makan), effisiensi makanan dan pembentukan
rangka, meningkatkan laju metabolisme ikan dan merangsang sel-sel dalam
tubuh untuk melakukan proses oksidasi terhadap bahan makanan sehingga
meningkatkan laju pertumbuhan benih ikan gurami. Sedangkan penambahan
dosis yang lebih tinggi (> 10 mg/kg pakan) dalam pakan buatan dapat
menyebabkan abnormalitas pada metabolisme tubuh, seperti yang
diungkapkan oleh Djojosoebagio (1996) yang menyatakan bahwa individu
yang mengandung tiroksin dengan dosis yang tinggi diduga melakukan
metabolisme terhadap sel-selnya sendiri. Dalam hal ini kecepatan
pembentukan dan pengrusakan sel hampir sama, sehingga penambahan sel
baik jumlah ataupun ukuran relatif tidak ada. Hal ini juga didukung oleh
penelitian Subiyanti (2005) yang menyebutkan bahwa pemberian hormon T4
pada dosis yang lebih tinggi pada benih ikan gurami menyebabkan laju
pertumbuhan harian yang rendah.
Formulasi pakan yang digunakan (g / 100 g pakan) dengan penambahan hormon tiroksin (T4)
No.
| Bahan Pakan |
Jumlah (gram)
|
1.
| Tepung Ikan |
19.56
|
2.
| Tepung Rebon |
12.93
|
3.
| Tepung Kedelai |
30.16
|
4.
| Tepung Daun Talas |
30.35
|
5.
| Minyak Ikan |
3
|
6.
| Vitamin Mix |
2
|
7.
| Mineral Mix |
1
|
8.
| CMC (binder) |
1
|
9.
| Hormon Tiroksin (T4) |
0.001
|
Jumlah
|
100
| |
Kontribusi Protein (%)
|
32
| |
Selain
itu, dengan pemberian hormon tiroksin (T4) dalam pakan buatan dengan
dosis 10 mg/kg pakan juga mampu meningkatkan effisiensi pemanfaatan
pakan yang diberikan (memberikan nilai FCR yang lebih rendah, yaitu
sebesar 1.94) (Subiyanti, 2005). Hal ini didukung oleh pendapat Guyton
(1983) yang menyatakan bahwa efek utama hormon tiroksin adalah
meningkatkan aktivitas metabolisme sebagian jaringan tubuh sehingga
kecepatan penggunaan makanan untuk energi sangat dipercepat. Oleh karena
itu, untuk meningkatkan pertumbuhan dan effisiensi pemanfaatan pakan
benih ikan gurami disarankan dilakukan penambahan hormon tiroksin dalam
pakan buatan dengan dosis 10 mg/kg pakan agar kebutuhan energy benih
ikan gurami dapat terpenuhi. Hormon tiroksin ini dapat dicampurkan pada
saat pembuatan pakan buatan sendiri atau pada pakan buatan yang sudah
jadi (buatan pabrik).
(sumber:kkp.go.id)
Senin, 10 Februari 2014
KARANGLEWAS EXPO 2014
Salah satu APLIKASI PROGRAM One Village One Product yang sudah jadi gerakan Nasional
melihat potensi yang ada diwilayah karanglewas, Buah duku menjadi Icon produk agrobinis, disamping komoditas lain sebagai OVOP untuk masing2 desa diwilayahnya; Pasir Wetan dengan Sirup Jahenya, serta produk pendukung beras produksi sawah lokal sepanjang aliran sungai Jengok
produk pendukung selain produk makanan atau bahan makanan,Pasir Wetan terkenal dengan Produk dari bahan Logamnya
Kediri dengan Gerbinya, Tamansari dengan kelantingnya,sunyalangu dengan Gula semutnya,Singasari dengan kripik mujaernya, dll.
Pemerintah akan membantu kelancaran akses pemasaran dengan mengundang peritel besar.
Program one village one product (OVOP) yang telah berhasil dikembangkan di beberapa negara Asia seperti Jepang dan Taiwan kini dicanangkan sebagai gerakan nasional di Indonesia.Wakil Presiden Boediono telah mencanangkan gerakan OVOP, Sabtu (14/11) lalu di Nusa Dua, Bali.
Kekuatan ekonomi Indonesia yang selama ini banyak tersembunyi di perdesaan diharapkan bisa terangkat dengan program satu desa satu produk ini.
Boediono menyatakan saat ini masih diperlukan penelitian mendalam mengenai produk apa yang cocok untuk satu desa. "Apakah produksi kerajinan tangan atau agroindustri. Jangan sampai kita sudah bikin produk bagus, tapi tidak ada pasarnya," ujar Boediono saat seminar internasional OVOP.
Program OVOP sendiri sebetulnya sudah mulai dilakukan Kementerian Negara Koperasi dan UKM sejak tahun lalu. Beberapa desa di Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Bali telah dijadikan daerah percontohan. Kementerian dalam halini memberikan pembinaan dan pendampingan mulai proses produksi hingga pemasaran dan distribusi.
"Kami sudah mulai mendorong penciptaan produk di tiap daerah yang bisa menjadi unggulan dalam percaturan global. Itu bisa dilakukan karena Indonesia sebetulnya punya sumber daya, talenta ekonomi, dan produk yang punya competitive advantage," terang Menteri Negara Koperasi dan UKM Sy Jii I Hasan.
Syarif meyakini bila setiap daerah atau desa fokus mengembangkan produk yang memang benar-benar unggul, baik dari sisi kualitas maupun pemenuhan produksi, visi program OVOP untuk menciptakan produk lokal bereputasi global akan mudah dicapai.
OVOP yang mengandung semangat pemberdayaan masyarakat desa itu memang sangat mengandalkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta koperasi sebagai ujung tombak. Namun, seperti yang terjadi selama ini, UMKM kerap terhambat permasalahan klasik, yaitu adanya kesenjangan pemasaran. Produk yang sudah bagus sering kali tidak bisa dijual-atau kalaupun bisa terjual dihargai murah-karena para pengusaha kecil ini tidak mempunyai akses yang cukup untuk memasarkannya. Gubernur Bali I Made Mangku Pastika mengeluhkan hal itu.
Produk yang bisa dikategorikan unggulan saja, seperti kopi luwak yang dihasilkan koperasi serbausaha di Bangli, hanya mampu dijual dengan harga RpSOO ribu per kilogram. Padahal, di pasar luar negeri kopi luwak dihargai sangat tinggi. Bahkan, bila disajikan
dalam bentuk minuman bisa mencapai ratusan ribu rupiah per cangkir. "Itu bukti masih ada kesenjangan pemasaran untuk usaha koperasi," tukas Pastika.
Syarif berjanji akan membantu kelancaran akses pemasaran dengan memperbanyak kegiatan promosi, termasuk mengundang peritel besar untuk mengunjungi koperasi yang memiliki produk unggulan.
Syarif mengingatkan kepada pelaku koperasi dan UKM bahwa tanpa kualitas dan tampilan {packaging) produk yang menarik, meskipun akses pemasaran sudah dibuka lebar, belum tentu produk itu akan langsung laku dan diminati pasar. Apalagi untuk masuk pasar internasional mereka harus bersaing dengan produk-produk luar yang bermutu tinggi.
Potensi besar Pelopor konsep OVOP di Jepang Mori-hiko Hiramatsu menyatakan Indo-
neia mempunyai potensi yang besar sekali untuk pengembangan OVOP. "Produknya seperti buah-buahan, tanam.in lokal, dan banyak lagi," kata Hir.imatsu.
Program one village one product (OVOP) yang telah berhasil dikembangkan di beberapa negara Asia seperti Jepang dan Taiwan kini dicanangkan sebagai gerakan nasional di Indonesia.Wakil Presiden Boediono telah mencanangkan gerakan OVOP, Sabtu (14/11) lalu di Nusa Dua, Bali.
Kekuatan ekonomi Indonesia yang selama ini banyak tersembunyi di perdesaan diharapkan bisa terangkat dengan program satu desa satu produk ini.
Boediono menyatakan saat ini masih diperlukan penelitian mendalam mengenai produk apa yang cocok untuk satu desa. "Apakah produksi kerajinan tangan atau agroindustri. Jangan sampai kita sudah bikin produk bagus, tapi tidak ada pasarnya," ujar Boediono saat seminar internasional OVOP.
Program OVOP sendiri sebetulnya sudah mulai dilakukan Kementerian Negara Koperasi dan UKM sejak tahun lalu. Beberapa desa di Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Bali telah dijadikan daerah percontohan. Kementerian dalam halini memberikan pembinaan dan pendampingan mulai proses produksi hingga pemasaran dan distribusi.
"Kami sudah mulai mendorong penciptaan produk di tiap daerah yang bisa menjadi unggulan dalam percaturan global. Itu bisa dilakukan karena Indonesia sebetulnya punya sumber daya, talenta ekonomi, dan produk yang punya competitive advantage," terang Menteri Negara Koperasi dan UKM Sy Jii I Hasan.
Syarif meyakini bila setiap daerah atau desa fokus mengembangkan produk yang memang benar-benar unggul, baik dari sisi kualitas maupun pemenuhan produksi, visi program OVOP untuk menciptakan produk lokal bereputasi global akan mudah dicapai.
OVOP yang mengandung semangat pemberdayaan masyarakat desa itu memang sangat mengandalkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta koperasi sebagai ujung tombak. Namun, seperti yang terjadi selama ini, UMKM kerap terhambat permasalahan klasik, yaitu adanya kesenjangan pemasaran. Produk yang sudah bagus sering kali tidak bisa dijual-atau kalaupun bisa terjual dihargai murah-karena para pengusaha kecil ini tidak mempunyai akses yang cukup untuk memasarkannya. Gubernur Bali I Made Mangku Pastika mengeluhkan hal itu.
Produk yang bisa dikategorikan unggulan saja, seperti kopi luwak yang dihasilkan koperasi serbausaha di Bangli, hanya mampu dijual dengan harga RpSOO ribu per kilogram. Padahal, di pasar luar negeri kopi luwak dihargai sangat tinggi. Bahkan, bila disajikan
dalam bentuk minuman bisa mencapai ratusan ribu rupiah per cangkir. "Itu bukti masih ada kesenjangan pemasaran untuk usaha koperasi," tukas Pastika.
Syarif berjanji akan membantu kelancaran akses pemasaran dengan memperbanyak kegiatan promosi, termasuk mengundang peritel besar untuk mengunjungi koperasi yang memiliki produk unggulan.
Syarif mengingatkan kepada pelaku koperasi dan UKM bahwa tanpa kualitas dan tampilan {packaging) produk yang menarik, meskipun akses pemasaran sudah dibuka lebar, belum tentu produk itu akan langsung laku dan diminati pasar. Apalagi untuk masuk pasar internasional mereka harus bersaing dengan produk-produk luar yang bermutu tinggi.
Potensi besar Pelopor konsep OVOP di Jepang Mori-hiko Hiramatsu menyatakan Indo-
neia mempunyai potensi yang besar sekali untuk pengembangan OVOP. "Produknya seperti buah-buahan, tanam.in lokal, dan banyak lagi," kata Hir.imatsu.
Menteri Pertanian (Mentan) Suswono mengatakan buah-buahan Indonesia terbukti memiliki daya saing tinggi dan sangat disukai di mancanegara. Hal ini bisa dilihat dari naiknya angka ekspor buah seiring meningkatnya produksi buah dalam kurun lima tahun ter-.lkhir ini.
Pada 2004 Indonesia mengekspor komoditas buah sebesar 171.823 ton, dengan nilai US$100,16 juta. Pada 2008, volume ekspor melambung hingga 323.889 ton dengan nilai USS234.
Sumber : Media indonesia
Langganan:
Komentar (Atom)




